Skip to content

Belajar pada Malaikat

Sewaktu Nabi saw bersama para sahabat berkumpul dalam sebuah majlis, tiba-tiba datang seorang laki-laki dengan berpakaian serba putih, dan duduk dihadapan Nabi dengan bertemu kedu lutut kemudian laki-laki tersebut mengajukan pertanyaan kepada Nabi: Mal Iman (Apakah Iman itu)? Nabi menjawab: engkau beriman kepada Allah, beriman kepada MalaikatNya, Kitab-kitabNya, para rasulnya, hari akhir dan ketentuan baik dan buruk. Laki-laki tersebut kemudian menyatakan Shadaqta ‘Engkau benar”. Kemudian laki-laki tersebut mengajukan pertanyaan lagI : Mal Islam “apakah Islam” itu? Nabi menjawab: Engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu UtusanNya, mendirikan shalat, membayar zakat, menunaikan shiyam ramadhan, dan berhaji ke Baitullah. Laki-laki tersebut menyatakan: shadaqta “engkau benar”. Laki-laki tersebut kembali mengajukan pertanyaan: Mal Ihsan “apakah Ihsan” itu? Nabi menjawab: Ihsan ialah engkau bneribadah kepada Allah seolah-olah engkau melaihatNya, dan kalau tidak bisa melihatNya, sesungguhnya Dia Maha melihatmu. Kemudian laki-laki tersebut meninggalkan majlis Nabi bersama shabat. Para sahabat bertanya kepada Nabi, siapakah laki-laki itu. Nabi menjawab dialah Jibril, mengajari kita tentang Iman, Islam dan Ihsan.

Profil

Nama : Soeparyo, lahir di daerah dingin lereng gunung Sumbing yaitu Wonosobo, pernah belajar di pondok pesantren, madrasah, perguruan tinggi Islam (IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), S-2 di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Pernah jadi Guru Agama Islam di SMA Negeri 2 dan SMA Swasta di Wonosobo, menggerakkan dakwah pendidikan di Sekolah Umum dengan pesantren Kilat dan Pendidikan Agama Islam Model di SD, SMP, SMA, SMK di Wonosobo. Memimpin Institusi Departemen Agama Kabupaten di Wonosobo dan Sragen, dan kini mengajar di perguruan tinggi Islam IAIN Walisongo Semarang dpk STAI Mamba’ul’Ulum Surakarta. Praktisi Dewan Pengawas Syariah: Ketua DPS Bank Syariah Sragen, PT BPR Syariah Mitra Harmoni Kota Semarang, KJKS BMT Marhamah Wonosobo. Peduli pendidikan melalui Dewan Pendidikan Sragen. Wakil Ketua Ikatan Persaudaraan Haji (IPHI) Kabupaten Sragen.

Belajar Untuk Bersyukur

Jangan butakan mata kita hanya karena satu atau dua keinginan yang tidak tercapai, lalu kita ,menjadi manusia pengeluh yang terhambat sebab hanya terfokus pada kekurangan. Mata kita selalu terbiasa melihat kekurangan, Ini yang biasanya sering tejadi, selalu dan ingin selalu uang kita lihat hanyalah kekurangan saja. Padahal, Allah telah berfirman : “ Dan janganlah engkau tujukan penglihatanmu kepada yang Kami beri kesenangan dengannya berbagai golongan dari mereka berupa perhiasan dunia, supaya Kami menguji mereka padanya, sedangkan rezeki Tuhanmu lebih baik dan kekal ( QS Thaahaa : 131 ).

Orang yang tinggi melihat bahwa ia kurus. Orang yang pendek melihat ia gemuk betapa enak nya bila bisa bertambah tinggi lagi. Yang punya kendaraan sepeda motor masih ingin membeli mobil, yang punya rumah ingin ladang, masih ingin terus menumpuk hartanya dan masih banyak lagi.

Tidak salah memang punya banyak keinginan, namanya juga manusia yang ada hanyalah kurang dan kurang tanpa bisa mensyukuri apa yang telah Allah berikan kepadanya. Inilah yang mesti kita pertanyakan dalam diri kita sudahkah kita bersyukur atas nikmat yang Allah beri, janganlah kita jadikan diri kita sebagai manusia yang tidak pernah terpuaskan dahaga keinginannya, Belajar untuk menerima dan mensyukuri atas apa yang ada tapi berusaha untuk tetap meraih sesuatu yang belum ada dalam hidup kita. Berusaha untuk lebih giat dan lebih cermat menangkap peluang dalam keinginan diri kita mungkin saja keinginan, harapan itu adalah sesuatu yang positif yang memberikan kita maslahat. Akan tetapi jika salah dalam penyalurannya, misal dengan mencari jalan pintas, maka bisa ditebak, keinginan tersebut menjebaknya pada situasi kehidupan yang bermasalah. Ibaratnya, ia berenang di kolam yang tak bertepi, yang tiada henti untuk mencarinya.

Jika kita renungkan kehidupan ini sebenarnya sangatlah indah kalau dijalani dengan rasa syukur. Apa yang di sekeliling kita yang kita dapatkan kita nikmati sebagai anugerah atau pemberian Allah Yang Maha Baik. Keinginan dipasang, tapi tidak menjadikan pasung yang mengharuskan diri kita untuk memenuhi semuanya dari yang setiap kita inginkan dengan membabi buta. Karena menjadi suatu dosa bagi manusia adalah jika dia menuruti semua apa yang dia inginkan karena keinginan manusia itu identik dikuasai oleh hawa nafsu dan hawa nasfu itu datangnya dari setan dan setan selalu berusaha menjerumuskan manusia kedalam dosa.

Berusaha untuk selalu berterima kasih kepada Allah atas segala karunia dan nikmat-NYA dengan segala kebaikannya. Pasti Allah akan berkenan memberikan tambahan nikmat rezeki kepada kita. Allah berfirman : ” Jika kamu bersyukur, niscaya akan Ku tambahkan nikmat-KU padamu, tapi jika kamu mengingkarinya akan nikmat-Ku, sungguh adzab-Ku sangatlah pedih.” ( Q.S Ibrahim ; 7 ).

Dan salah satu cara berterima kasih kepada Allah adalah dengan menerima apa adanya dan mau berbagi. Seharusnya kita malu sebab kita hanya meminta-minta dan selalu meminta tanpa pernah mau memberi. Seharusnya kita malu, kita mohon dan selalu memohon, tanpa pernah mau beribadah kepada-NYA dengan baik. Dan seharusnya kita malu,, Allah memberi segala karunia-Nya, memberi segala kenikmatan dunia, akan tetapi kita menikmatinya dalam kesendirian dan bahkan masih selalu merasa kurang, terlebih-lebih kita masih sering melakukan segala dosa kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah.

Jika kita tidak sudi memberi dan masih selalu merasa kurang, kapan kita merasa diri kita bahagia, tenang dan berkecukupan, bisa jadi ini adalah siksaan batin bagi kita.

Kita harus tetap berusaha dan belajar untuk mensyukuri semua nikmat Allah kepada kita dan semoga Allah membuka mata kita untuk bisa melihat kelebihan yang Allah karuniakan yang Allah anugerahkan kepada kita, bukan kita terfokus hanya pada kekurangan saja. Bisa jadi dengan menemukan kelebihan, kita bisa memulai berbuat banyak tanpa harus banyak mengeluh kepada Allah, karena sudah menjadi fitrah manusia memiliki kelebihan dan kekurangan dalam dirinya, tidak ada manusia yang sempurna karena kesempurnaan hanyalah milik Allah, tapi dengan ketidak sempurnaan manusia itu kita belajar untuk bersyukur atas apa yang kita terima, karena semua itu adalah ujian bagi diri kita atas kadar keimanan kita kepada Allah, kekurangan bisa jadi ladang amal untuk kita jika kita mampu untuk mensyukurinya tapi kelebihan juga bisa jadi adzab jika kita tidak mampu untuk mensyukurinya. Sungguh ampunan Allah sangatlah dekat akan tetapi adzab Allah juga sangatlah pedih.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.